Thursday, January 31, 2013

DESTARASTRA


Destarastra adalah putra Prabu Kresnadwipayana atau Abiyasa Raja Astina dengan permaisuri Dewi Ambika. Ia merupakan raja di Negara Gajahoya, dengan permaisurinya bernama Dewi Gendari, dari perkawinan itu mendapatkan anak berjumlah seratus orang yang dinamakan keluarga Kurawa. Ia memiliki cacat netra (buta), sehingga selalu didampingi oleh istrinya di manapun ia berada. Destarastra memiliki perwatakan keras kepala, berpendirian kuat, dan ia memiliki ajian lebur sekethi tinggalan Prabu Santanu yang kesaktiannya dapat menghancurkan bukit hanya karena dijamah oleh tangan Destarastra.

Destarastra termasuk dalam kelompok tokoh katongan dengan posisi muka tumungkul, dengan mata digambarkan buta, berhidung bentulan, dan bermulut salitan dengan kumis, jenggot, dan cambang yang cukup lebat. Ia bermahkota pogag, dengan hiasan turida, jamangsusun, sumping mangkara, gelapan utah-utah pendek berukuran besar. Badan gagahan dengan ulur-ulur naga mamongsa, ia memakai praba sebagai simbol kebesarannya sebagai raja di Gajahoya. Memakai tali praba dengan motif kembangan. Posisi kaki pocong banyakan dengan lis sembuliyan, dengan sepasang uncal kencana. Dodot bermotif semen jrengut seling gurdha. Atribut yang lain memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dengan memakai keroncong. Tokoh Destarastra ditampilkan dengan muka berwarna hitam dengan badan disungging gembleng.

Destarastra selalu memanjakan anak-anaknya sehingga mereka menjadi anak yang manja, apa lagi dalam bimbingan Arya Sangkuni yang memiliki perwatakan buruk dan selalu berbuat kurang baik. Diceritakan ketika di Negara Astina kedatangan tamu atau duta dari Negara Amarta, dan Batara Kresna berubah menjadi Brahala, Destarastra, mendengar ribut-ribut karena para Kurawa berlarian berebut dahulu, ia meminta istrinya untuk mengantar ke sumber suara itu. Di dalam hati telah menggunakan ajian lebur sekethi, karena terlalu lama, tangan Destarastra memegang tembok, dan tembok itupun hancur karena kekacauan ajian yang dimilikinya.

Monday, January 28, 2013

Karakter Burung Angry Birds pada Kehidupan Nyata


Karakter Burung Angry Birds pada Kehidupan Nyata

Permainan Angry Birds tentu sudah tidak asing terdengar di telinga agan" sekalian... nah ternyata karakter burung" pada permainan tersebut terinspirasi dari jenis-jenis burung yang hidup di bumi ini... berikut ini gambar"nya, silakan dilihat"... 







Gmn gan? lucu" yah gambarnya? :D

Wednesday, January 23, 2013

Cara gampang install windows XP dalam Flashdisk USB


Cara gampang install windows XP dalam Flashdisk USB




Pengen install windows XP tapi ga bisa karena CD drive rusak??
masi banyak cara lain coy....
seperti kata pepatah "Banyak Jalan menuju ke Roma"
kalau tentang ini " Banyak Cara install Ulang"
Begitulah, kali ini saya sampaikan cara praktis membuat USB Flashdisk Anda menjadi pangkalan Sistem Operasi Windows. Kalo dulu Windows harus diinstall di hard
disk, kemudian ada yang buat CD Live Windows, sekarang masanya yang praktis-praktis. Flashdisk USB Anda dapat difungsikan sebagai Mobile Operating System dengan memasang WindowsXP di dalamnya. Dengan demikian, Anda tinggal tancap sana-sini, tanpa tergantung pada sistem operasi yang tersedia di PC.
Keknya gampang bener! So, bagaimana caranya? Nah caranya ada disini:

  • Pertama siapkan peralatan yang dibutuhkan sebagai berikut:Flashdisk USB minimal 256MB dan maksimal 2GB. Kenapa harus ada batas minimal dan maksimal? Ini disebabkan dua hal. Flashdisk yang terlalu kecil tidak akan mampu menyimpan file sistem Windows. Sementara di sisi lain, jika flashdisk melebihi 2GB kemungkinan besar akan mengalami masalah dengan pembatasan Partisi FAT16 yang akan kita gunakan nantinya.
  • CD Instalasi Windows dengan SP2 (atau yang lebih tinggi).
  • Program pemformat Flashdisk USB dari HP: HPUSBFW.EXE. Program ini dapat Anda download disini.
  • Program Bart’s Preinstalled Environment Bootable Live Windows CD / DVD, atau sering disebut BartPE. Versi terbaru dari program ini bisa Anda dapatkan disini.
Kedua, Langkah Instalasi:
  • Format flashdisk: jalankan HPUSBFW.EXE, format flashdisk dengan file sistem FAT. Agar lebih mudah, beri nama BartPE.
  • Copy file Boot.ini, NTLDR dan NTDETECT.COM dari drive C:\[ Instalasi windows] ke flashdisk Anda. Agar lebih mudah, nonaktifkan dulu properti hidden file di Explorer. Buka Windows Explorer > Tools > Folder Options > klik Tab View. Hilangkan cek box Hide Extensions for known file types dan Hide protected operating system files, akhiri dengan [OK].
  • Restart, atur setting Boot Sequence (urutan booting) agar jalan dari Flashdisk. Jika tidak ada pesan error, Anda bisa lanjut ke langkah berikutnya.
  • Setelah flashdisk beres, sekarang waktunya mempersiapkan instalasi windows. Copy semua file yang ada dalam CD Instalasi Windows XP minimal dengan SP2 ke dalam sebuah folder. Ingat, program BartPE mensyaratkan minimal WinXP SP2. Di sini saya simulasikan file tersebut dikopi ke dalam C:\Winxpsp2.
  • Install bartPE/PE Builder. Agar lebih mudah, ikuti saran lokasi penyimpanan file hasil instalasi BartPE. Dalam ilustrasi berikut tampak bahwa PE Builder diinstall di drive C:\pebuilder313. Bagi Anda yang menginstall di folder lain, silakan sesuaikan dengan lokasi instalasi Anda masing-masing.

  • Sekarang jalankan PE Builder, pilih source instalasi yang tadi sudah di kopi ke C:\Winxpsp2.Pastikan Cekbox Create ISO Image dan Burn to ISO tidak dipilih. Selanjutnya klik Build, tunggu proses pembuatan sistem operasi hingga selesai, akhiri dengan Close.


  • Sekarang saatnya menyalin windows build tadi ke dalam flashdisk dengan langkah berikut. Buka windows Command Prompt dari Start > Run > ketik CMD [Enter].
  • Masuk ke C:\pebuilder313\plugin\peinst dengan mengetikkan perintah pada command prompt ‘cd c:\pebuilder313\pluginpeinst [Enter]‘.
  • Masukkan flashdisk kosong dan ketik ‘PEINST.CMD [ENTER]‘ maka akan muncul 4 pilihan berawalan angka dan satu huruf [Q]uit seperti ilustrasi di bawah.

  • Tekan 1 [Enter], masukkan path dimana letak build yang barusan dibuat, misalnya: C:\pebuilder313\BartPE.
  • Tekan 2 [Enter] dan masukkan target path berupa huruf yang diberikan windows pada drive USB Flashdisk, misalnya F: sehingga tampak seperti berikut:

  • Sekarang pada menu sudah tampil path source dan destination. selanjutnya tekan 5 [Enter] untuk menginstall Windows pada flashdisk. Ketika muncul konfirmasi tekan tombol 1 sekali lagi.
  • Tunggu beberapa saat hingga selesai, selanjutnya flashdisk Anda sudah bisa digunakan untuk booting WindowsXP.

Tuesday, January 22, 2013

RADEN NAKULA


Nakula adalah salah satu Pandawa yang terkenal sebagai saudara kembar Sadewa. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata dengan istrinya Dewi Madrim. Nakula memiliki istri bernama Dewi Nagawati putri Hyang Antaboga di Saptapratala, dari perkawinan itu ia mendapatkan dua orang putra yaitu Nagasantana dan Dewi Sri Tanjung. Ia memiliki kesatriyan yang dinamakan Sawojajar.
                Nakula berpenampilan branyak, dengan posisi muka langak dengan suara melengking jika berbicara, bermata liyepan, berhidung walimiring, bermulut salitan. Ia bermahkota gelung supit urang, dengan sumping sorengpati. Badan satria alus dengan kalung tanggalan. Posisi kaki dengan pocong sembuliyan dengan motif klithik. Atribut lainnya mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dengan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan muka putih dengan badan gembleng, atau muka dan badan gembleng.
                Nakula dilahirkan ketika ibunya telah meninggal dengan cara bunuh diri menusuk lambungnya, setelah mengetahui suaminya mati mendadak, saat melihat keindahan Negara Astina dengan menaiki lembu Andini. Nakula lahir kembar melalui luka bekas tusukan keris itu. Bayi kembar itu oleh Abiyasa selanjutnya diserahkan kepada Dewi Kunti agar dapat diasuh seperti ketiga anaknya yang lain.
                Nakula adalah titisan Dewa Aswin (Dewa Kembar) dan dewanya tabib, yang mahir dalam menunggang kuda dan merupakan prajurit yang sangat tangguh dalam memainkan senjata panah dan lembing. Ketika Pandawa dalam pembuangan selama 13 tahun, Nakula menyamar sebagai ahli tata interior di istana Wirata.
                Nakula dalam kegiatan sehari-hari selalu mendampingi Prabu Yudistira dalam mengelola kerajaan Amarta. Selain sebagai penasehat raja yang akan selalu dijadikan nara sumber yang berkaitan dengan masalah kekeluargaan maupun masalah kenegaraan. Namun tidak selalu nasihat itu dituruti oleh raja, sehingga dalam mengambil keputusan kadang mengecewakan penasihatnya. Misalnya dalam mengambil keputusan untuk meminjamkan pusaka jimat Kalimasada untuk dipinjam oleh raja Sabrang, hanya karena belas kasihan yang mendalam pusaka itu diberikan.
                Dalam perang Baratayuda, Nakula bertugas untuk melemahkan semangat Prabu Salya yang merupakan saudara tua ibunya, sehingga kekuatan para Kurawa menjadi tidak kuat lagi. Prabu Salya merasa iba kepada kedua kemenakannya karena teringat bahwa anak itu sejak lahirsudah yatim piatu, tanpa ayah dan ibu, sehingga atas jasa Dewi Kunti mereka ini dapat berkembang menjadi dewasa. Di samping itu teringat bahwa selama ini tidak pernah memperhatikannya, sehingga merasa berdosa kepada adiknya Dewi Madrim. Atas dasar itu Nakula mendapat penjelasan bahwa dalam perang Baratayuda yang dapat mengalahkan Prabu Salya adalah Puntadewa, karena raja yang memiliki darah putih hanya raja Amarta itu. Hal ini dilakukan didasari oleh kecintaannya kepada Pandawa. Di samping itu Negara Mandaraka juga diserahkan kepada Nakula, karena sudah tidak ada anak keturunannya yang hidup, semuannya telah gugur dalam perang Baratayuda itu.
                Setelah perang Baratayuda usai, Nakula diangkat sebagai patih di Negara Astina oleh Raja Kalimataya.

Monday, January 21, 2013

RADEN SAMBA WISNUBRATA


Raden Samba Wisnubrata adalah putra Batara Kresna dengan permaisuri Dewi Jembawati. Ia mempunyai istri bernama Dewi Sunggatawati putri Raja Uttaranegara, bertempat tinggal di kasatriyan Parang garuda, dari perkawinan itu memiliki putra bernama Arya Dwara. Dalam wayang kulit purwa tokoh ini digambarkan sebagai satria bagus yang sempurna, baik secara fisikmaupun tingkah laku dan tutur bahasanya sangat halus. Sesungguhnya Raden Samba Wisnubrata ini putra yang digadhang-gadhang sebagai pengganti raja.

Raden Samba Wisnubrata berpenampilan branyak (langak) hal ini ditandai dengan posisi muka langak (tengadah). Ia bermata liyepan, berhidung walimiring, dan bermulut salitan, memakai jamang, memakai sumping sorengpati. Mahkota yang dikenakan adalah gelung supit urang dengan kancing gelung gelapan utah-utah  panjang, badan satria alus berkalung tanggalan, memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dengan memakai keroncong. Posisi kaki pocong sembuliyan. Umumnya ditampilkan dengan warna putih pada mukanya atau dengan gembleng (gemblengan). Wanda Temanten, Rugsit, dan Banjet.

Dalam lakon wahyu Cakraningrat, atau wahyu yang akan menurunkan raja di tanah Jawa. Raden Samba Wisnubrata turut serta merebutkannya, dengan jalan laku ritual atau bertapa, sehingga wahyu tersebut akan menyatu dengan jiwanya. Ketika wahyu Cakraningrat telah memasuki jiwa raganya, Raden Samba Wisnubrata berubah sikap menjadi sombong, tinggi hati, dan takabur. Perubahan itu membuat tubuh dan jiwanya menjadi panas, sehingga wahyu Cakraningrat tidak tahan tinggal dan keluar meninggalkan jiwa Raden Samba beralih tempat dan sejiwa dengan Raden Abimanyu, sehingga hanya keturunannyalah yang kuat menjadi raja di Negara Astina. Dalam berbagai cerita Raden Samba ini selalu bersaing dengan Raden Abimanyu dan Raden Lesmanamandrakumara putra mahkota raja Astina.
                Raden Samba Wisnubrata dan Dewi Hatnyanawati istri Sitija Bomanarakasura atau iparnya, merupakan titisan dari Betara Drema dan Betari Dremi sepasang kekasih dari Suralaya. Dikisahkan pasangan dewa itu akan abadi selamanya walaupun mereka telah menitis pada titah di arcapada akan dipertemukan dan cintanya akan abadi.

Raden Samba Wisnubrata ditakdirkan menjadi satria yang bagus rupanya dan menjadi Sri Kresna, ia pula yang diharapkan dapat melintir keprabon di Negara Dwarawati. Digambarkan bahwa tokoh ini memiliki kesempurnaan tubuh dan memiliki kemampuan yang tinggi berkaitan dengan masalah ketataprajaan (kenegaraan) maupun masalah keprajuritan, ttermasuk dalam memainkan berbagai senjata, gelar perang, dan sebagainya. Oleh karena keterampilan Samba ini membuat saudaranya yang bernama Bomanarakasura merasa iri hati. Oleh karena itu melahirkan rasa cemburu terutama jika istrinya berjumpa dengan Raden Samba Wisnubrata.

Akhir hayat Raden Samba Wisnubrata dikisahkan dalam lakon wayang purwa dengan cerita Samba Sebit. Secara garis besar diceritakan bahwa Raden Samba Wisnubrata mati dicincang (disebit) oleh Sitija Bomanarakasura, karena Samba dituduh berselingkuh dengan istrinya Dewi Hatnyanawati. Namun kejadian itu adalah bersatunya kembali titisan dari Dewa Drema dan Dewi Dremi dalam cinta kasih yang abadi. Akibat hasutan pamannya Pancatnyana Sitija tega menganiaya bahkan membunuh adik tunggal ayah itu dengan tubuh terpotong-potong (hancur). Dalam masyarakat Jawa lakon Samba Sebit merupakan lakon wayang purwa yang dikeranatkan, sehingga jarang sekali dipentaskan. Hal ini banyak kejadian setiap kali pagelaran wayang kulit dengan lakon Samba Sebit ini akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang umumnya mmembuat kesedihan.

Sunday, January 20, 2013

NARAYANA


Narayana adalah putra Basudewa raja di Negara Mandura, ia memiliki saudara yang bernama Prabu Baladewa atau Kakrasana dan Dewi Wara Sembadra. Sejak kecil tokoh ini memiliki kelebihan serba mengetahui dalam segala hal. Ia sangat rajin bertapabrata sehingga mendapatkan berbagai pusaka dan mendapatkan ilmu yang dapat mengubah dirinya menjadi raksasa yang amat besar. Narayana merupakan nama lain dari Batara Kresna dikala masih muda. Ia tangkas dalam berbicara dan juga dalam perbuatan, suka membantu  siapa saja.

Narayana termasuk dalam kelompok tokoh wayang yang berkarakter branyak (lanyap), dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung walimiring, dan bermulut salitan. Ia bermahkota pogog, dengan hiasan turidha, jamang, sumping mangkara, dengan gelapan utah-utah pendek. Badan alusan dengan kalung tanggalan dengan rambut ngore odhol. Posisi kaki pocong sembuliyan dengan moif semen jrengut seling gurdha. Atribut yang lain memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan muka dan badannya disungging hitam, hal ini sesuai dengan ceritanya bahwa Narayana ditakdirkan hidup sebagai seorang yang hitam cemani, maksudnya hitam tulus hingga pada darahnya.

Ketika masih muda ia dititipkan di Widarakandang, agar terhindar dari ancaman pembunuhan oleh Kangsadewa yang berusaha untuk melenyapkan keturunan Raja Basudewa yang dianggap menjadi penghalang dalam menguasai Negara Mandura. Pada saat diadakan keramaian aduan orang di Mandura, Narayana bersama Kakrasana dan adiknya Dewi Sumbadra menyasikannya. Hal ini diketahui oleh Kangsadewa sehingga ia ditangkap untuk segera dibunuh. Namun Narayana tanggap dengan situasi yang demikian, dengan menggunakan senjata cakra ia dapat melepaskan diri, sehingga dapat menyerang Kangsadewa dengan pusakanya bersama-sama dengan senjata nenggala milik Kakrasana. Menerima serangan itu musuh Narayana menemui ajalnya.

ADIPATI KARNA


Adipati Karna adalah raja di negar Awangga. Pada masa mudanya ia bernama Raden Suryatmaja, ia beristrikan Dewi Surtikanti yang kemudian diberi sebutan Dewi Setyawati karena kesetiannya terhadap suaminya. Ia menjadi raja setelah menjadi suami Dewi Surtikanti dan mendapat hadiah atau anugerah raja Mandaraka Prabu Salya, setelah dapat menaklukkan raja Awangga.

Adipati Karna tergolong tokoh wayang yang berkarakter branyak (lanyap), dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung walimiring, bermulut salitan dengan kumis tipis. Ia bermahkota topong, dengan hiasan turidha, jamangsusun, sumpingmangkara, jungkat penatas, jamangsulaman, nyamat dan gelapan utah-utah pendek. Rambut ngore odhol, memakai praba sebagai simbol kekuasaanya sebagai adipati. Posisi kaki dengan pocong semenningrat dengan dodot motif semenjrengut seling gurdha. Ada sepasang uncal kencana sebagai bagian busana, menyandang keris yang disimbolkan dengan manggaran. Atribut lainnya memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan memakai keroncong. Adipati Karna ditampilkan dengan muka merah atau Jambon dengan badan gembleng. Wanda: Reca, Begal, dan Rewe.

Dalam perang Baratayuda ia diangkat sebagai senapati Kurawa dengan sais Prabu Salya, sedangkan lawannya adalah Arjuna dengan sais Batara Kresna. Dalam perang tanding itu kedua senapati itu diberi busana yang sama sehingga Nampak kembar. Mereka berdua sama-sama memiliki keterampilan yang sama dalam berolah senjata panah, namu akhirnya, Arjuna dapat  dapat mengalahkannya dan Adipati Karna Gugur di medan laga.

Tokoh Adipati Karna ini dalam masyarakat Jawa menjadi salah satu teladan sebagai seorang pahlawan bangsa. Walaupun ia adalah saudara Pandawa tunggal ibu, tetapi ia dibesarkan dan mendapatkan hidup dari bumi Astina, maka ia memilih sebagai prajurit Astina, sebagai tumpah darahnya. Hal ini dapat dicerminkan lebih jauh dalam serat Tripama.

ARYA SETYAKI


Arya Setyaki adalah putra Prabu Setiajid (Ugrasena), raja kerajaan Lesanpura dengan permaisuri Dewi Sini/Wresini putri Prabu Sanaprabawa, yang bertempat tinggal di kesatriyan Lesanpura. Arya Setyaki memiliki istri bernama Dewi Garbarini putri Prabu Garbanata di Negara Garbaruci. Ia memiliki putra bernama Arya Sanga-sanga.

Secara fisik Arya Setyaki berposisi langak, sehingga dapat dipastikan bersifat agresif, bermata kedhelen, berhidung sembada, dan bermulut salitan. Mahkota gelung supit urang, gelapan utah-utah panjang sebagai kancing gelung, mengenakan jamang, bersumping mangkara. Arya Setyaki bertubuh  pideksa dengan kalung tanggalan, kelatbahu naga pangangrang, gelang candrakirana, jangkahan satria dengan konca bayu. Atribut lainnya memakai sepasang uncal kencana. Umumnya tokoh ini berwarna merah pada mukanya, hal ini menjadi tanda bahwa tokoh ini mulai naik darah. Tokoh Arya Setyaki disebut pula dengan nama Wresniwira, Bima Kunting, Singamulangjaya, dan sebagainya. Wanda: Kalanadang, Mimis, Wisuna.

Arya Setyaki mendapatkan gada wesi kuning, yang semula dimiliki Singamulangjaya, seorang senapati Negara Dwarawati, yang kemudian tokoh satria Dwarawati itu menyatu dan sejiwa dengan Arya Setyaki, hal ini dapat dicermati dalam lakon Bedhahe Dwarawati.

Arya Setyaki merupakan tokoh satria yang memiliki tanggung jawab tinggi, sehingga ia terkenal sebagai benteng Negara Dwarawati. Dalam lakon-lakon wayang di Yogyakarta, tokoh ini selalu bermusuhan dengan Pandita Durna, sehingga jika bertemu akan terjadi perkelahian antara keduanya dan menjadi tontonan masyarakat yang sangat menarik, dan menjadi cirri khas bagi dalang tertentu dalam setiap penampilannya.

Arya Setyaki memiliki musuh abadi bernama Raden Burisrawa, yang berani mengganggu kehormatan Dewi Wara Sembadra. Ketika terjadi peperangan antara Arya Setyaki dengan   Raden Burisrawa, mereka berjanji akan menjadi musuh utama dalam peperangan besar Baratayuda.

Dalam lakon Kresna Duta, saat Batara Kresna menjadi duta dari para Pandawa untuk menanyakan sikap para Kurawa dan mengenai hak-hak para Pandawa terhadap Negara Astina, Arya Setyaki bertugas menjadi sais kereta yang dimiliki Batara Kresna, ketika sang duta baru berada di istana, Arya Setyaki didatangi Raden Burisrawa sehingga terjadi perkelahian yang dahsyat, yang tidak dapat dipisahkan, karena telah menjadi kehendak dewata bahwa kedua satria itu akan dipertemukan dalam Baratayuda.

Dalam perang Baratayuda sumpah kedua tokoh yang berseteru itu menjadi kenyataan, Arya Setyaki berhadapan dengan Raden Burisrawa, yang berakhir dengan kemenangan Arya Setyaki atas bantuan Raden Arjuna, Raden Burisrawa dapat dibinasakan dengan terpenggal kepalanya. Akhir hayat Arya Setyaki diceritakan terjadi pada saat lahirnya putra Abimanyu dengan Dewi Utari yang bernama Parikesit. Pada saat ada duratmaka yang akan membunuh jabang bayi Parikesit, dan ketahuan sehingga membuat geger Pandawa, sehingga Arya Setyaki terinjak oleh Raden Werkudara (Bima) saat mengejar pencuri, sehingga Arya Setyaki tewas seketika.

Saturday, January 19, 2013

RADEN SADEWA


Raden Sadewa adalah salah satu Pandawa yang terkenal sebagai saudara kembar Nakula. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata dengan istrinya Dewi Madrim. Sadewa memiliki istri bernama Dewi Srengginiwati putri Hyang Anantaboga di Saptapratala, dari perkawinan itu ia mendapatkan dua orang putra yaitu Raden Sidapeksa. Ia memiliki kesatrian yang dinamakan Bumiratalun.

Sadewa berpenampilan branyak, dengan posisi muka langak dengan suara melengking, bermata liyepan, berhidung walimiring, bermulut salitan. Ia bermahkota gelung supit urang, dengan sumping sorengpati. Badan satria alus dengan kalung tanggalan. Posisi kaki dengan pocong sembuliyan dengan motif klithik. Atribut lainnya mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dengan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan muka putih dengan badan gembleng, atau muka dan badan gembleng.

Sadewa dilahirkan ketika ibunya telah meninggal dengan cara bunuh diri menusuk lambungnya, setelah mengetahui suaminya mati mendadak, saat melihat keindahan Negara Astina dengan menaiki lembu Andini. Sadewa lahir kembar melalui luka bekas tusukan keris itu. Bayi kembar itu oleh Abiyasa selanjutnya diserahkan kepada Dewi Kunti agar dapat diasuh seperti ketiga anak Pandu yang lainnya.

Sadewa adalah titisan Dewa Aswin (Dewa Kembar) dan dewanya tabib, yang mahir dalam menunggang kuda dan merupakan prajurit yang sangat tangguh dalam memainkan senjata panah dan lembing. Ketika Pandawa dalam pembuangan selama 13 tahun, Sadewa bersama kembarannya menyamar sebagai ahli tata interior di istana Wirata.

Sadewa dalam kehidupannya sehari-hari selalu bersamaan dengan saudara kembarnya Nakula, hampir tidak pernah berpisah. Mereka mendampingi raja Amarta yang bernama Darmakusuma (Yudistira) untuk berbagai keperluan, terutama berkaitan dengan masalah-masalah kenegaraan, kerakyatan, kemakmuran Negara, strategi perang dan sebagainya, bahkan masalah-masalah pribadi raja tidak luput dari perhatian. Keluarga Pandawa memiliki tali perssaudaraan yang sangat kuat, sehingga akan selalu membantu mengatasi dalam berbagai persoalan. Dalam lakon-lakon wayang selalu diceritakan bahwa Sadewa lebih terkenal daripada Nakula, tokoh ini memiliki kebijaksanaan sama dengan Batara Kresna. Ketika Kresna dalam melaksanakan tugasnya telah dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, seperti membela anaknya Sitija yang sedang bermusuhan dengan Gatutkaca karena masalah kikis Tunggarana, kedudukan penasihat para Pandawa diambil alih oleh Sadewa yang didukung oleh para putra Pandawa.

Dalam perang Baratayuda, Sadewa bersama kembarannya bertugas untuk melemahkan semangat Prabu Salya yang merupakan saudara tua ibunya, sehingga kekuatan para Kurawa menjadi tidak kuat lagi. Prabu Salya merasa iba kepada kedua kemenakannya karena teringat bahwa anak itu sejak lahir sudah yatim piatu, tanpa ayah dan ibu, sehingga atas jasa Dewi Kunti mereka ini dapat berkembang menjadi dewasa. Di samping itu teringat bahwa selama ini tidak pernah memperhatikannya, sehingga merasa berdosa kepada adiknya Dewi Madrim. Atas dasar itu Sadewa mendapat penjelasan bahwa dalam perang Baratayuda yang dapat mengalahkan Prabu Salya adalah Puntadewa, karena raja yang memiliki darah putih hanya raja Amarta itu. Hal ini dilakukan didasari oleh kecintaannya kepada Pandawa. Di samping itu Negara Mandaraka juga diserahkan kepada Nakula dan Sadewa, karena sudah tidak ada anak keturunannya yang hidup, semuannya telah gugur dalam perang Baratayuda itu.

Akhir hayat Sadewa dikisahkan dalam maha prastanika parwa, Sadewa mokswa bersama saudaranya dalam perjalanan menuju swargaloka.

RESI SETA


Arya Seta adalah putra Prabu Matswapati dengan Dewi Rekatawati dan merupakan putra mahkota Wirata dan bersemayam di kasatriyan Cemarajajar. Ia mempunyai istri putri Sang Hyang Narada. Tokoh ini berwatak pemberani, jujur, tenang, sabar dan memiliki ilmu kesaktian yang tinggi.

Resi Seta tokoh berwibawa, bermata kedhelen, berhidung sembada, mulut salitan dengan kumis dan cambang tebal ia bermahkota gelung supit urang, sumping pandhan binethot, memakai pupuk jarot asem dan rembing di telinganya. Badan pideksa dengan kalung tanggalan memakai sampir dengan motif bludiran, posisi kaki jangkahan satria dengan sepasang uncak kencana, konca bayu, dodot bermotif poleng. Atribut lainnya menggunakan kelatbahu candrakirana, gelang candrakirana, gelang binggel untuk kakinya. Tokoh ini ditampilkan dengan muka berwarna jambon (merah muda) dengan badan gembleng.

Ketika Gatutkaca yang merupakan satu-satunya murid Resi Seta menghadapi musuh yang bernama Dursala (putra Dursasana) yang akan membinasakan para Pandawa, Resi Seta memberikan ajian Narantaka kepada Gatutkaca, sehingga Dursala dapat dibinasakan.

Dalam perang Baratayuda babak permulaan Resi Seta diangkat menjadi senapati agung Pandawa untuk menghadapi senapati agung Kurawa yaitu Resi Bisma. Pada mulanya Resi Seta mengalami kemenangan sehingga musuhnya terjun ke sungai. Namun akhirnya Resi Seta gugur di medan laga setelah tertikam pusaka yang bernama Salukat. Namun sebelum gugur Resi Seta berhasil membunuh Rukmanata.

Friday, January 18, 2013

10 Impian Pecinta Teknologi


10 Impian Pecinta Teknologi

Apa yang paling diinginkan para para pecinta teknologi di masa depan. Komputer cepat, murah atau bahkan gratis? Simak saja sendiri...

Dari survei kebanyakan para pemakai komputer dan pecinta teknologi, banyak hal yang mereka inginkan dan kemukakan bahwa di masa depan hal-hal berikut di bawah ini yang mungkin saja bisa terjadi:

1. Laptop Cepat & Murah
Laptop seharga Rp. 1 atau 2 jutaan dengan processor Intel i7, layar 14 inch, VGA sekelas Nvidia GTX 275, memori 4GB dan harddisk 1TB... Tipis dan ringan juga tentunya...

2. Flash Disk 100TB Murah
Dengan kapasitas flash disk yang muat ratusan ribuan film, jutaan lagu dan ratusan jutaan gambar.... dengan harga yah katakanlah cuma Rp. 100 ribu...

3. Sistem Operasi Windows Gratis
Tidak perlu bayar lisensi software Windows lagi, tidak perlu dikejar-kejar polisi atau BSA lagi... Tidak perlu ada bajak membajak lagi, dunia pasti sangat indah kalau Windows bisa gratis...
http://alfikmiza.files.wordpress.com/2009/10/masadepan.jpg?w=398&h=297

4. Internet Super Kencang
Lihat video HD streaming, lihat siaran berita streaming, download hitungan detik... buka apapun di internet hitungan seper-sekian detik... Hidup terasa lebih nikmat...

5. Internet Gratis Dimana-mana
Tak perlu harus ke Starbuck atau Dunkin Donut untuk dapat internet gratis. Ke pantai bisa internet gratis, ke puncak bisa internet gratis, beol di WC-pun bisa internetan dengan gratis...

6. Menelepon Gratis
Banyak operator yang saat ini memang sudah menawarkan telepon atau sms gratis atau setidaknya bayar Rp. 1,- Tapi kapankah telepon bener-bener bisa gratis? Saya rasa Ini cuma mimpi di siang bolong... Tapi jangan menyerah karena kalau internet sudah gratis, maka kita bisa pakai IP Phone untuk neleponnnn...

7. Komputer / Robot Bisa Bicara Seperti 'Chobit'
Kalau Anda yang pernah menonton film animasi Chobit, tentu sangat tertarik sekali ingin memiliki robot cantik, imut, dan pintar. Mungkin impian Anda akan segera terwujud... tapi kalau tidak tunggu 100 tahun lagi, Anda akan dijajah robot seperti film Terminator...

8. Pengganti Batere atau Sumber Listrik Lainnya
Tentunya penggemar teknologi paling benci kalau gadget yang dipakai 'Low Bat' atau ketika di rumah atau kantor mati lampu. Bayangkan kalau di masa depan ada rumah yang punya teknologi atom bisa ngecharge dari energi matahari, atau laptop atom yang dicharge satu jam bisa dipakai 1 minggu...
http://1.bp.blogspot.com/_Vfg_hCqnxZw/So4FMoQq5AI/AAAAAAAAAN8/YhPuiAsCMcs/s1600/3065708872_d465e9db69.jpg

9. Virtual Reality, Matrix & Teleport
Kalau Anda penggemar film Star Trek, Matrix, Johnny Mnemonic dan sejenisnya pasti takjub kalau di masa depan teknologi di film tersebut bisa menjadi kenyataan. Bayangkan Anda ke Mesir hanya hitungan detik, tidak perlu ke sekolah lagi karena otak Anda dilengkapi dengan harddsik dimana pengetahuan atau ilmu yang ingin dipelajari tinggal diloading saja...

10. Ponsel Gratis
Konsep ini mungkin bisa terwujud bila didalam ponsel akan ada iklan dan pemakai harus membeli produk atau memakai layanan tertentu yang diwajibkan oleh operator... Bisa saja Anda dapatkan ponsel gratis sekarang, kalau memang Anda lagi beruntung memenangkan hadiah atau 'lucky draw'...

PRABU SALYA


Prabu Salya merupakan putra Prabu Mandrapati dari Negara Mandaraka. Ia pada masa kecilnya bernama Raden Narasoma ia mempunyai istri bernama Dewi Setyawati (Pujawati), dari perkawinan itu ia mendapatkan beberapa putra yaitu Dewi Erawati yang menjadi istri Prabu Baladewa raja Mandura. Dewi Surtikanti yang menjadi istri Adipati Karna raja di Awangga, Dewi Banowati menjadi istri Prabu Suyudana raja Astina, Arya Burisrawa di kasatriyan Cinde Kembang, dan Arya Rukmarata. Prabu Salya mempunyai saudara perempuan yang bernama Dewi Madrim yang kemudian menjadi permaisuri raja Astina yang bernama Pandudewanata. Ketika masih muda Prabu Salya mendapatkan istri Dewi Setyawati (Pujawati) putra Begawan Bagaspati, Raden Narasoma tampak sekali sebagai sosok yang tidak berbudi luhur, yaitu setelah menjadi menantu Begawan yang berwujud raksasa, ia meminta ajian candrabirawa, yang sesungguhnya tidak dapat diberikan atau diajarkan kepada orang lain, jika hal itu dilanggar maka Bagaspati harus rela meninggalkan dunia fana alias mati, namun karena kecintaannya kepada anak satu-satunya ia rela memberikan ajian itu kepada Raden Narasoma. Ketika ajian sudah dapat dimiliki Raden Narasoma meminta yang lebih dari Begawan Bagaspati, yaitu ia merasa malu mempunyai mertua raksasa, hal ini akan segera dituruti, namun ketika Begawan Bagaspati sedang samadi akan melakukan mokswa, ditikam oleh Narasoma sehingga tewas seketika.
                Prabu Salya merupakan tokoh yang berkarakter alusan dengan posisi muka tumungkul, ia bermata kedhelen, berhidung sembada, bermulut salitan dengan kumis dan jenggot yang tipis. Ia bermahkota pogag dengan hiasan turida, jamang, sumping mangkara, dengan gelapan utah-utah pendek berukuran besar serta memakai tali praba dengan motif bludiran. Ia mengenakan praba sebagai lambing kebesarannya sebagai raja di Mandaraka. Posisi kaki pocong semen ningrat dengan sepasang uncal kencana, dodot bermotif semen jrengut seling gurdha. Atribut yang lainnya ia mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan dan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan muka berwarna jambon (merah muda) dengan badan disungging gembleng.
                Ketika Prabu Salya mengetahui bahwa adiknya Dewi Madrim belapati atas meninggalnya Prabu Pandudewanata, padahal ia sedang hamil bahkan melahirkan melalui luka di perutnya, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Pada saat berlangsungnya perang Baratayuda ia didatangi anak Dewi Madrim yang bernama Raden Nakula dan Raden Sadewa yang ingin mengetahui kelemahan ajian candrabirawa milik Prabu Salya. Hal ini perlu diketahui karena ajian itu tidak ada yang dapat mengalahkannya, jika demikian maka para Pandawa akan kalah dalam perang melawan Kurawa. Setelah melihat kedua kemenakannya itu hati Prabu Salya teringat dengan masa kecilnya kedua satria Pandawa yang pada saat lahir sudah menjadi anak yatim piatu. Karena merasa berhutang budi dengan para Pandawa lainnya, ia menyerahkan kematiannya kepada para Pandawa.
                Prabu Salya di Negara Astina berfungsi sebagai sesepuh, sehingga selalu memberikan nasihat-nasihat yang baik. Hal ini kadang dibantah oleh para Kurawa dan membuatnya raja Mandaraka ini marah. Pernah terjadi Prabu Salya marah dengan menantunya Adipati Karna, karena para Kurawa bermaksud mencelakakan para Pandawa. Ketika dalam perang Baratayuda Prabu Salya pernah berselisih karena masalah kekerabatan dan keluarga Aswatama justru disalahkan dan diusir dari Astina.
                Akhir hayat Prabu Salya diceritakan pada perang Baratayuda. Ketika ia menjadi senapati agung Kurawa, ia mendapatkan lawan Prabu Puntadewa, seperti yang pernah disampaikan kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa bahwa ia akan kalah jika berhadapan dengan raja berdarah putih. Disamping itu sudah saatnya Bagawan Bagaspati mengambil kembali ajian Candrabirawa yang disertai dengan nyawa Prabu Salya. 

BASUDEWA (ENOM)


Basudewa adalah putra raja Basuketi dari Negara Mandura. Ia merupakan putra mahkota Mandura, yaitu salah satu putra raja yang dicalonkan menjadi raja menggantikan raja yang berkuasa sekarang setelah lengser keprabon. Ia memiliki saudara yaitu Arya Prabu Rukma, Arya Ugraseni, dan Dewi Kunti. Ketika Dewi Kunti menjadi lamaran dari para satria atau raja-raja muda, raja Mandura kebingungan untuk menentukan pilihannya raja atau satria yang mana yang akan diambil sebagai menantu. Oleh karena itu agar adil dan mendapatkan calon suami Dewi Kunti yang berkualitas, maka diadakan sayembara tanding. Barangsiapa yang dapat mengalahkan kesaktian Basudewa, dialah yang berhak menerima Dewi Kunti. banyak para raja muda dan satria yang mengikuti sayembara itu,  tetapi tidak satu pun  yang dapat mengalahkan kesaktian Basudewa. Akhirnya ada salah satu peserta yang bernama Pandu dari Negara Astina dapat mengalahkan Basudewa dan berhak memboyong Dewi Kunti.

Basudewa (enom) tergolong tokoh wayang katongan dengan posisi muka langak, dengan mata kedhelen, berhidung sembada, dan bermulut jamang, sumping mangkara, dan gelapan utah-utah pendek. Badan pideksa dengan kalung tanggalan. Posisi kaki dinamakan jangkahan satria putran dengan sepasang uncal kencana, dodot bermotif parang rusak. Ia memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan memakai keroncong. Basudewa (enom) ditampilkan dengan muka berwarna jambon (merah muda) dengan badan gembleng.

Basudewa sebelum diangkat menjadi raja di Mandura diminta oelh orang tuanya untuk mencari istri yang akan dijadikan permaisuri. Basudewa menentukan pilihan yaitu kepada seorang putri yang bernama Dewi Angsawati. Raja Mandura tidak setuju dengan pilihan itu, karena perempuan pilihan anaknya itu tidak akan setia kepada suaminya. Namun Basudewa sudah terlanjur cinta, sehingga apa pun akibatnya akan diterimanya. Oleh karena sang raja Basudewa diusir dari dalam istana. 

Thursday, January 17, 2013

BOGADENTA


Bogadenta adalah anak Destarastra Raja di Gajahoya dengan permaisurinya bernama Dewi Gendari, ia terjadi dari tali pusar Suyudana yang hilang saat lahir. Tali pusat itu ditemukan oleh Resi Rasakumala di padepokan Calamadu yang baru kesepian setelah baru saja ditinggal mati istrinya. Bogadenta pada mulanya bernama Raden Trigatra. Ia merupakan satria yang memiliki kesaktian yang tinggi. Saat meninnggalkan padepokan Calamadu ia berhasil menolong seorang putri cantik yang bernama Putri Sabrang, yang dikejar-kejar Gajah Pelana. Gajah Pelana kemudian ditunggangi bagian leher dan ditekan ke bawah hingga tidak berdaya. Gajah yang dapat berbicara itu merasa kalah dan menyerahkan Putri Sabrang sebagai istri Trigatra. Sesampainya di Negara Astina Putri Sabrang dirayu oleh Raden Widura, untuk dijadikan istrinya. Melihat kejadian itu Bogadenta mengadu kepada Destarastra, tetapi sang ayah memohon untuk mengikhlaskan istrinya direbut oleh pamannya. Kemudian ia diajak Arya Sengkuni untuk diperkenalkan dengan Prabu Pandudewanata.

Bogadenta adalah tokoh wayang yang tergolong tokoh gagahan dengan posisi langak dengan mata thelengan, hidung bentulan, mulut salitan dengan berkumis, jenggot, dan cambang, ia memakai mahkota pogag dengan hiasan turida, jamang, sumping, mangkara, dan gelapan utah-utah pendek dengan ukuran yang besar serta memakai rembing. Badannya gagahan dengan ulur-ulur naga mamongsa, memakai praba sebagai lambing kebesarannya sebagai keluarga raja. Ia memiliki tali praba dengan motif kembangan. Rambut ngore odhol. Posisi kaki jangkahan raton, dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, dodot bermotif parang rusak. Atribut yang lain memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dengan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan sunggingan brongsong.

Dalam lakon timbangan (trajon), Bogadenta terpental karena tekanan Werkudara ia jatuh di negara sebrang yang bernama Turilaya dan kemudian ia menjadi raja di daerah itu. Pada saat perang Baratayuda Bogadenta menemui ajalnya di tangan Arjuna terkena panah sakti mandraguna yang bernama Pasopati.

Wednesday, January 16, 2013

PRABU BALADEWA


Baladewa merupakan putra Prabu Basudewa raja Mandura dengan permaisurinya bernama Dewi Ugraiyani. Ia merupakan saudara tua dari Raja Dwarawati yang bernama Batara Kresna dan Dewi Wara Sembadra yang menjadi istri Arjuna. Baladewa memiliki permaisuri yang bernama Dewi Erawati putrid Prabu Salya Raja Mandaraka, dari perkawinan itu dikaruniai dua putra yang dinamakan Wisata dan Wilmuka. Baladewa merupakan tokoh yang digambarkan sebagai orang yang berkulit putih (bule) yang selalu berpasangan dengan tokoh yang ditakdirkan berkulit hitam (cemani) yaitu adiknya yang bernama Narayana. Baladewa memiliki karakter mudah naik darah (marah) etapi jujur, berwibawa, mau menerima kritikan dan mudah hilang amarahnya jika apa yang dilakukan memang tidak benar.

Tokoh Baladewa berpenampilan brasak, dengan posisi muka langak, bermata kedhelen, berhidung sembada bermulut salitan dengan kumis yang tebal. Berjanggut dan bercambang. Ia bermahkota Makutha dengan perhiasan turidha, jamang susun tiga, jungkat piƱatas, karawista, nyamat, bersumping mangkara dengan gelapan utah-utah pendek. Badan pideksa dengan rambut ngore dan memakai praba sebagai simbol kebesarannya sebagai raja di Mandura. Ia memakai ulur-ulur naga mamongsa, jangkahan raton dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, clana cindhe. Kampuh bermotif parang barong. Atribut yang lain memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang columpringan dan memakai keroncong. Baladewa ditampilkan dengan muka dan badan putih atau muka berwarna merah dengan gembleng. Wanda Sembada, Geger, dan Bantheng.

Baladewa merupakan salah satu raja yang sangat dekat dengan Raja Astina, karena kemahiran Patih Sangkuni dalam berpolitik kenegaraan dapat merangkul Baladewa mau menjadi salah satu senapati Astina. Ketika Baladewa akan kawin dengan Dewi Erawati, sesungguhnya putri tersebut telah ditunangkan dengan raja Astina yang bernama Suyudana. Atas usaha Raden Kakrasana (nama kecil Baladewa) yang dibantu oleh Arjuna, maka Dewi Erawati dengan syarat Kerajaan Mandura menjadi salah satu mitra (bagian) dari Negara Astina. Oleh karena itu Baladewa selalu membela Negara Astina. Ketika putra mahkota Astina Lesmanamandrakumara ingin dikawinkan dengan Dewi Siti Sundari, Prabu Baladewa berusaha keras untuk membantunya, sehingga dengan upaya ia menekan Dwarawati agar Dewi Siti Sundari dikawinkan dengan putra mahkota Negara Astina. Juga di kesempatan lain saat Arya Burisrawa gandrung dengan Dewi Wara Sembadra, Baladewalah yang menjadi duta untuk melamarnya di Negara Dwarawati, walaupun selalu gagal.

Baladewa memiliki senjata sakti yang terkenal dengan nama senjata Nanggala dan Alugor, jika kondisi membuat amarahnya tanpa ragu-ragu ia akan menggunakan senjata andalannya itu. Umumnya dalam berbagai lakon, Baladewa selalu bertekuk lutut di hadapan Prabu Kresna, yang selalu dapat mengendalikan amarahnya. Jika yang member pertimbangan adiknya Raja Dwarawati ini akan selalu dituruti. Baladewa ditakdirkan berusia panjang, ia hidup hingga satu masa setelah zamannya Pandawa dengan nama Resi Jaladara, dan ia merupakan salah satu syarat yang dibutuhkan dalam penobatan Parikesit di Negara Astina. Akhir hayat Baladewa dikisahkan ketika ada kraman dari Pringgadani yang dipimpin Prabu Wesiaji (keturunan Brajamusti) selesai, Baladewa yang pada saat itu bernama Resi Jaladara kehilangan senjata nenggola dan alugora secara misterius, sehingga merasa ada sasmita bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Prabu Baladewa yang sudah sangat tua itu bersama-sama Dewi Wara Sembadra yang sudah berusia lanjut, mokswa bersama-sama.

Tuesday, January 15, 2013

JAKAPITANA


Jakapitana adalah nama lai yang digunakan untuk menyebut Prabu Suyudana atau Duryudana pada masa masih muda. Jakapitana merupakan putra Destarastra raja Gajahoya dengan ibunya bernama Dewi Gendari. Ia memiliki saudara seratus orang, dan ia merupakan saudara yang paling tua. Ia dibimbing oleh Patih Sangkuni dalam hal ketatanegaraan dan politik pemerintahan, sedangkan dalam hal keprajuritan yang berkaitan dengan keterampilan menggunakan senjata, terutama senjata Gada dan keahlian gelar perang dipercayakan kepada Pandita Durna. Ia gagah seperti Werkudara dan selalu akan mengimbangi satria Pandawa itu dalam segala hal, baik mengennai keterampilan dalam memainkan gada maupun kemampuan lainnya.

Jakapitana merupakan tokoh wayang kulit yang tergolong dalam kelompok gagahan dengan posisi muka tumungkul dengan mata thelengan, hidung bentulan, mulut salitan dengan kumis tebal, jenggot dan cambang tipis. Ia mengenakan mahkota pogag dengan hiasan turida, jamang susun, sumping mangkara, dengan gelapan utah-utah walik berukuran besar serta ia memakai rembing. Badan gagahan dengan ulur-ulur naga mamongsa dengan rambut ngore odhol. Posisi kaki dengan pocong banyakan dengan lis sembuliyan serta dodotnya bermotif semen jrengut seling gurda. Atribut yang lain memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan sungging brongsong.

Sesungguhnya Jakapitana merupakan tokoh baik dan jujur, namun kurang piker, tetapi ketika diasuh oleh Arya Sangkuni yang memiliki pikiran yang jahat, maka dapat mempengaruhi sikap dan perilaku asuhannya. Hal ini terbukti dengan keinginan Jakapitana menguasai negara yang sesungguhnya merupakan hak dan milik para Pandawa, ia berusaha agar para Pandawa lenyap sehingga tidak dapat memintanya lagi.

RADEN KUMBAKARNA


Ambakarna/Kumbakarna adalah salah satu ksatria yang menjadi teladan sebagai pahlawan yang rela mati membela Negara dan tumpah darahnya. Kumbakarna adalah putra Resi Sarpa di pertapaan Selakrenda dengan istrinya Dewi Sukesi putri Prabu Sumali. Ia mempunyai istri bidadari yang bernama Dewi Aswani dan berputra dua raksasa bernama Kumba-kumba dan Aswanikumba. Kumbakarna memiliki arti bertelinga besar, hal ini mencerminkan perilaku Resi Sarpa dan Sukesi ketika akan mengandung Ambakarna didahului dengan perkelahian dan saat saresmi Resi Sarpa sambil njewer telinga Sukesi, sehingga ketika melahirkan anaknya bertelinga besar. Kumbakarna mempunyai tempat tinggal di Kasatrian Lemburgangsa. Ia berwatak jujur, pemberani, dan bersifat satria yang memiliki kesaktian.
                Kumbakarna adalah raksasa berukuran besar dan dengan mata plelengan, hidung pelokan, mulut ngablak dengan kumis, jenggot, dan cambang yang sangat lebat. Ia memakai mahkota makutha dengan hiasan turidha, jamang susun tiga, jungkat penatas, karawista , dawala, nyamat, bersumping mangkara dan kancingnya gelapan utah-utah pendek. Rambut gimbal ngore memakai praba sebagai simbol kebesarannya. Badan raksasa dengan ulur-ulur naga mamangsa dan talipraba dengan motif geometric. Posisi kaki jangkahan denawa raton dan dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, clana cindhe puspita dan dodot bermotif parang rusak. Atribut lainnya kelatbahu raksasa raja gelang denawa raton. Tangan kiri mengepal dibuat irisan, sehingga tidak dapat digerakkan (seperti lazimnya raksasa yang berukuran besar), tangan kanan bebas digerakkan, dan memakai keroncong. Tokoh ini ditampilkan dengan muka jambon (merah muda) dengan tubuh gembleng atau muka dan badan gembleng. Wanda: jaka, barong, dan wewe.
                Kumbakarna pernah turut serta menjadi senapati perang dalam menyerang Suralaya karena sesuatu sebab, sehingga para dewa merasa takut kemudian mengadakan perdamaian dengan mengabulkan semua permintaan serta setiap putra dari Resi Sarpa diberi hadiah bidadari. Kumbakarna mendapat Dewi Aswani.
                Ketika perang besar terjadi di Alengka yang menewaskan seluruh senapatinya termasuk kedua putra Kumbakarna telah gugur di medan laga. Dasamuka bermaksud memanggil Kumbakarna  untuk diangkat menjadi senapati. Saat itu Kumbakarna sedang bertapa tidur yang sukar untuk dibangunkan, atas saran Togog Kumbakarna dapat dibangunkan dengan mencabut bulu cumbunya. Kumbakarnapun terbangun danmenghadap Dasamuka, ia diperlakukan sangat istimewa diberi makanan sebanyakk seratus tumpeng beserta lauk pauknya. Ketika selesai makan Kumbakarna diminta memimpin prajurit untuk membela Dasamuka, seketika itu Kumbakarna menjadi marah dan memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya. Ia bersedia menjadi senapati tetapi tidak membela Dasamuka namu membela tanah tumpah darah dan tanah kelahirannya Alengka yang selama ini member hidup dan membesarkannya akan dirusak oleh musuh.
                Akhir hayat Kumbakarna diceritakan dalam perang besar itu, Kumbakarna berhadapan dengan Lesmana dan Ramawijaya. Atas nasihat Wibisana tubuh Kumbakarna harus dipotong-potong dengan panah, sehingga kesaktiannya akan hilang dan akhirnya gugur. Rama Wijaya mengakhiri hidup Kumbakarna dengan pusaka saktinya Gumawijaya. Ada yang menceritakan Kumbakarna gugur dengan tubuh yang terpotong-potong itu karena kutukan Arya Jambumangli.
                Sifat kesatria Kumbakarna ini di tanah Jawa menjadi suri teladan bagi satria Jawa, agar dapat mencontoh Kumbakarna ini. Ia rela mati untuk membela negara dan tanah tumpah darah, tidak didasari oleh kemauan atas keinginan dunia, dan tidak membantu kepada orang yang berperang membela keinginan sendiri yang tidak benar.

Monday, January 14, 2013

DEWI DRUPADI/DURPADI


Dewi Drupadi adalah putri prabu Drupada raja Cempala, ia diperintah oleh Puntadewa raja Negara Amarta, yang kemudian setelah selesai perang Baratayuda menjadi raja di Astina bergelar prabu Karimataya. Dari perkawinannya dengan salah satu Pandawa ia mendapatkan putera yang diberi nama Raden Pancawala.
                Dewi Drupadi merupakan kelompok tokoh putren yang berkarakter luruh, dengan posisi muka tumungkul, dengan mata liyepan, hidung lancip, mulut salitan. Ia bermahkota gelungkeling, dengan hiasan jamang sadasaler dan sumping Waderan (kudhupturi) dengan mengenakan rembing. Rambut ngore gendhong dengan berbusana putren, dengan mengenakan semekan,pendhing dengan motif ngangranngan yang terbuat dari bahan emas murni, pinjung dengan motif semen sinom dan kain panjang dengan motif klithik. Pada waktu Dewi Drupadi masih muda digambarkan dengan penuh perhiasan seperti memakai jamang, sumping mangkara, rambut ngore, memakai rimong. Ia menggunakan kalung tanggalan, kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan dan gelang binggel sebagai gelang kaki, motif dodot dengan parang seling gurdha, dan kain panjangnya bermotif cindhe puspita. Namun ketika tokoh putren ini sudah tua ditampilkan dengan polos tanpa perhiasan. Umumnya Dewi Drupdi ditampilkan dengan muka dan badan gembleng.
                Ketika para kurawa mengadakan perayaan dalam rangka pengangkatan raja muda Suyudana di Astina, dirayakan secara besar-besaran, semua kerabat dan saudara diundang untuk menghadiri perhelatan itu, termasuk para Pandawa. Dalam perhelatan itu Dewi Drupadi juga menghadiri bersama suaminya Puntadewa. Setelah para Kurawa puas dengan minum-minuman keras hingga mabuk, ketika itu Dursasana melihat Drupadi dan tertarik untuk mengganggunya, dengan menjamah sanggulnya hingga rusak, sehingga rambutnya terurai sampai pinggang. Hal ini membuat marahnya Dewi Drupadi karena merasa terhina atas perbuatan salah satu Kurawa itu, sehingga menjatuhkan sumpahnya, ia tidak akan menyanggul rambutnya sebelum di cuci dengan darahnya Dursasana. Sumpah ini terlaksana ketika terjadi perang Baratayuda, Dursasana mati di tangan Werkudara, sehingga Dewi Drupadi berhasil melunasi sumpahnya.

DEWI KUNTI


                Dewi Kunti sering disebut dengan nama Dewi Prita, dan Kuntinalibrata. Ia adalah putra Prabu Basuketi di Negara Mandura. Ia memiliki saudara bernama Basudewa, Prabu Rekma, dan Arya Ugrasena. Ia merupakan permaisuri raja Pandudewanata di Negara Astina. Perkawinan dengan raja Astina itu memiliki beberapa putra, yaitu Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna. Dewi Kunti memiliki perwatakan belas kasih, setia. Sejak masih gadis ia suka tentang ilmu-ilmu kebatinan dengan berguru kepada Resi Druwasa.
                Dewi Kunti tergolong tokoh putren luruh dengan posisi muka tumungkul, bermata liyepan, hidung lancip (walimiring), dengan mulut salitan. Ia bermahkota gelung keling dengan hiasan jamang sadasaler, sumping prabangayun. Ada penggambaran sinom yang menghiasi dahinya. Tubuh berbusana putren dengan memakai semekan, pinjung dan sampir  bermotif bludiran. Dodot yang dipakai bermotifkan parang rusak seling gurdha dengan kain panjang bermotif cindhe puspita. Tokoh ini ditampilkan polos tanpa perhiasan. Umumnya muka dan badan gembleng.
Ketika Dewi Kunti akan dipinang oleh Pandu, ternyata ia telah mengandung akibat dari perbuatannya mencoba sebuah ajian yang dapat mendatangkan siapa saja yang diinginkan. Ketika sedang mandi di taman Mandura, dalam hati ia mengagumi Batara Surya. Hal ini menjadi masalah besar bagi Negara Mandura, karena Dewi Kunti yang masih gadis itu telah hamil akibat berhubungan dengan Batara Surya karena keampuhan ajian yang dipelajarinya. Atas kesepakatan Prabu Basuketi, Dewi Kunti melahirkan bayi dari kandungannya melalui telinga, atas kesaktian Resi Druwasa.
Banyaknya raja pelamar yang menginginkan Dewi Kunti, maka diadakan sayembara perang, Barang siapa yang mampu mengalahkan Raden Basudewa akan menerima hadiah Dewi Kunti. Ternyata yang dapat mengungguli kesaktian Basudewa adalah Panndudewanata dari Negara Astina, kemudian diboyong ke Astina dan menjadi istri Pandu, yang di kemudian hari menurunkan para Pandawa.

Sunday, January 13, 2013

DEWI WARA SRIKANDI


Dewi Wara Srikandi adalah putra Prabu Drupada raja Pancalareja dengan permaisurinya Dewi Gandawan. Ia merupakan istri Arjuna yang mendapat tugas sebagai penjaga keselamatan dan ketenteraman kesatriyan Madukara. Dalam perkawinan itu tidak mendapatkan putra. Dewi Wara Srikandi memiliki saudara kandung bernama Dewi Drupadi yang kemudian menjadi istri Puntadewa, dan Raden Trustajumena. Tokoh putren ini sangat menyukai olah keprajuritan terutama dalam memainkan senjata panah. Oleh karena perannya itu, dalam masyarakat dijadikan idola sebagai tokoh prajurit wanita.
                Dewi Wara Srikandi tergolong tokoh yangberpenampilan branyak (lanyap), dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring), dan bermulut salitan. Ia bermahkota gundhulan dengan sinom yang menghiasi dahinya mengenakan jamang sadasaler dengan sumping prabangayun. Satria weweg (padat berisi), rambut ngore gendhong mengenakan busana putren dengan semekan gadung mlathi, pinjung dengan dodot bermotif semen jrengut seling gurdha dan samparan kain panjang bermotif kawung. Tokoh ini banyak memakai atribut seperti kelatbahu dan gelang, tetapi ditampilkan polos. Dewi Wara Srikandi bermuka dan berbadan gemblong, wanda,  Golek, Nenes, Patrem. Ada kalanya tokoh ini ditampilkan dengan busana keprajuritan, ketika ia tampil sebagai senapati agung dalam pareng Baratayuda.
                Dewi Wara Srikandi memperoleh kemampuan dalam menggunakan senjata panah didapatkan dengan berguru kepada Arjuna. Saat belajar memanah tidak mengenal waktu, sehingga membuat saudaranya Dewi Drupadi dan ayahnya tidak menyetujui, padahal Arjuna juga baru saja kawin dengan Dewi Sembadra, sehingga membuat hubungan Arjuna dengan Dewi Sembadra menjadi renggang. Namun Dewi Srikandi tidak mau mengerti karena keinginannya untuk menguasai keterampilan dalam menggunakan senjata panah, sehingga semua persyaratan dipenuhinya, bahkan ada persyaratan yang hanya dapat dilakukan dan diketahui oleh Srikandi dan Arjuna saja. Lama kelamaan hubungan Arjuna dengan Srikandi yang semula hanya guru dan murid dalam memanah, tetapi kini Arjuna benar-benar jatuh cinta kepada Srikandi, sehingga ia meminangnya untuk dijadikan istri keduanya. Dewi Srikandi menerima pinangan itu dengan syarat jika Arjuna dapat mencarikan seorang perempuan yang kepandaiannya dalam memainkan senjata panah melebihi kemampuannya. Untuk itu Arjuna mengajukan jago Dewi Larasati dari Widarakandang, sebagai juri meminta Prabu Kresna. Setelah dilakukan uji tanding memanah dengan obyek telur burung pipit, dimenangkan oleh Dewi Larasati, kemudian obyek kedua dengan sehelai rambut, dimenangkan pula oleh Larasati. Dengan demikian syarat yang diajukan Dewi Srikandi telah dipenuhi, sehingga ia bersedia diambil istri oleh Arjuna.
                Dalam perang Baratayuda Dewi Srikandi diangkat sebagai senapati Pandawa untuk menghadapi senapati Astina yaitu Resi Bisma. Setelah melihat senapati Pandawa perempuan hati Bisma telah grahita jika ajalnya semakin dekat, hal ini sesuai dengan sunpah Dewi Amba yang akan membalas kematiannya jika dalam medan perang melawan senapati wanita. Oleh karena itu Resi Bisma tidak mengadakan perlawanan ketika Srikandi melepaskan panah saktinya hingga menembus dada Resi Bisma, sehingga senapati Astina gugur di medan laga.
                Akhir hayat Srikandi dikisahkan bersamaan dengan lahirnya Parikesit, ketika Aswatama berkehendak membunuh Parikesit, lebih dulu menghabisi Dewi Srikandi.

Saturday, January 12, 2013

DEWI AMBA


Dewi Amba merupakan putra dari raja di Negara Giyantipura. Ia memiliki saudara yang bernama Dewi Ambiki. Pada mulanya ia telah ditunangkan dengan raja muda yang bernama Citamuka raja Swarantipura. Oleh karena ketiga putri ini menjadi rebutan raja penglamar, maka diadakan sayembara perang, barang siapa dapat mengalahkan Wahkuma dan Arimuka berhak menerima  ketiga putri tersebut. Satria yang dapat memenangkan sayembara itu adalah Dewabrata atau Resi Bisma. Namun karena tunangannya ia tidak berhak meminta diri untuk menemui tunangannya, tetapi oleh tunangannya ia tidak diterima karena telah menjadi putri boyongan, yang berhak memiliki adalah mereka yang memenangkan sayembara. Dewi Amba pun kembali ke Resi Bisma, namun Resi Bisma juga tidak mau menerima, dengan memaksa Dewi Amba mengikuti Raden Dewabrata ke Astina. Hal ini membuat Dewabrata marah dan mengagar-agari dengan senjata panah. Panah di tangan satria Astina akhirnya terlepas tanpa sengaja, sehingga membuat Dewi Amba tewas seketika tertembus senjata. Sebelum jasatnya hilang ada suara si antariksa yang menyatakan bahwa dirinya akan membalas kematian itu ketika dalam perang besar jika ia berhadapan dengan prajurit wanita dia akan membalas kematian itu.
                Dewi Amba termasuk tokoh wayang putren yang berkarakter branyak (lanyap), posisi muka langak, bermata liyepan, hidung lancip, dan mulut salitan.  Ia mengenakan mahkota pogag, dengan hiasan jamang sadasaler, jamang sumping mungkara, gelapan utah-utah pendek ukuran sedang dan  memakai rembing. Ada penggambaran sinom di bagian dahinya. Rambut ngore. Badan berbusana putren dengan mengenakan kalung tanggalan, semekan motif kembangan, sampir motif bludiran, pinjung dengan motif sinom seling gurdha dengan kain bermotif parang. Ia memakai pendhing terbuat dari emas ginepeng dengan bentuk bunga melati. Atribut lainnya memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan binggel sebagai gelang kakinya. Tokoh ini ditampilkan dnegan brongsong

Friday, January 11, 2013

DEWI MADRIM


Dewi Madrim termasuk istri Prabu Pandudewanata raja Astina. Ia merupakan putra raja Mandaraka dan memiliki saudara tua yang bernama Prabu Salya. Ia memiliki sepasang putra kembar yang bernama Nakula dan Sadewa.
                Dewi Madrim termasuk tokoh wayang putren yang berkarakter branyak (lanyap), dengan posisi muka langak, bermata liyepan, hidung lancip, dan mulut salitan, mangkara, gelapan utah-utah  pendek ukuran kecil dan memakai rembing.ada penggambaran sinom di bagian dahinya. Rambut ngore. Badan berbusana putren dengan mengenakan semekan motif kembangan, rimong motif bludiran, pinjung dengan motif sinom seling gurdha dengan kain panjang bermotif parang. Ia memakai pendhing terbuat dari emas ginepeng dengan bentuk ngrangrangan. Atribut lainnya memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan binggel sebagai gelang kakinya. Tokoh ini ditampilkan dnegan brongsong.
                Ketika Dewi Madrim sedang berkasih-kasihan dengan suaminya Prabu Pandudewanata, tiba-tiba sang nata mangkat. Hal ini sesuai dengan sumpah dari pendeta yang telah dibunuh ketika mereka berubah wujud menjadi kijang kencana yang sedang berkasih-kasihan. Dewi Madrim merasa terpukul dengan meninggalnya suaminya, sehingga ia bela pati dengan ngayut tuwuh (bunuh diri) dengan menusuk tubuhnya dengan senjata keris, padahal Dewi Madrim sedang hamil tua. Atas kehendak dewata bayi dalam kandungan itu lahir melalui luka di perut Dewi Madrim itu.

Thursday, January 10, 2013

DEWI GENDARI


         Dewi Gendari adalah istri Prabu Destarastra raja di Gajahoya, ia adalah putra raja Negara Gandaradesa dan memiliki saudara yang bernama Arya Sengkuni yang kemudian dikenal sebagai patih di Negara Astina. Dewi Gendari pada mulanya berkeinginan diperistri oleh Pandu, namun ia dipilih oleh Destarastra yang cacat netra untuk dijadikan permaisurinya. Dari kejadian itu ia menaruh dendam dengan Pandu sehingga ia bersumpah bahwa keturunannya akan menjadi musuh keturunan Pandu, perkawinannya dengan Destarastra memiliki anak yang jumlahnya seratus orang. Anak-anak Gendari ini di kemudian hari dikenal dengan nama Kurawa.
                Dewi Gendari termasuk tokoh wayang putren yang berkarakter branyak (lanyap), dengan posisi muka langak, bermata liyepan, hidung lancip, dan mulut salitan ia mengenakan mahkota pogag, dengan hiasan jamang sadasaler, jamang, sumping gajah ngoling, gelapan utah-utah pendek ukuran sedang dan memakai rembing. Ada penggambaran sinom di bagian dahinya. Rambut ngore. Badan berbusana putren dengan mengenakan kalung tanggalan, semekan motif kembangan, rimong motif bludiran, pinjung dengan motif sinom seling gurdha dengan kain panjang bermotif kawung. Ia memakai pendhing terbuat dari emas ginepeng dengan bentuk ngrangrangan. Atribut lainnya memakai kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, dan binggel sebagai gelang kakinya. Tokoh ini ditampilkan dnegan brongsong